Posted by: Krisna | November 7, 2008

” Saya Ingin Seperti Ayah “

Dapat dari Milis Ibu Saya….sebuah syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin.

Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah.

Namun aku tahu betul ia pernah berkata,

“Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”

“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata,

Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola”

“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang”

Ia hanya berkata, “Oh ….”

Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata,

“Aku akan seperti ayahku. Ya, betul aku akan sepertinya”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu aja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya,

“Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”

Dia menengok sebentar sambil tersenyum,

“Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”

“Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan”

“Nak, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;

Suatu saat aku meneleponnya.

“Aku ingin bertemu denganmu, Nak”

Ia bilang,

“Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis seperti aku;

Ow

Hmm.. dalem banget artinya. Namun setidaknya aku menyadari sekarang, Ayahku sekarang juga sudah sering ada dir
umah, malah aku yang ada di Jakarta, jarang pulang jarang nelpon juga he3… Untuk Ayah dan Ibu, maafkan saya ya yang sudah banyak salah kepada kalian terlebih saat 2 saya kuliah sekarang….


Responses

  1. Untuk Ayah dan Ibu, maafkan saya ya yang sudah banyak salah kepada kalian terlebih saat 2 saya kuliah sekarang….

    Ngomonge ojo nang blog. Wani ga? :cool:

  2. penuh dengan renungan..

  3. ya ampun ka’ sedih bgt sy bacanya…

    mamaku dulu pernah cerita mirip ky gitu juga tapi judulnya “gadis kecil dan pohon apel”..

  4. huaaa.. menyedihkan.. huhu.
    jadi merasa bersalah, kayaknya orangtua saya juga semakin kehilangan saya..

    http://ikhmahariyantibatubara.wordpress.com

  5. Renungan untuk kita,

    btw
    Ayo ramai – ramai pakai banner COMPFEST
    http://akatsukihariini.blogspot.com/2009/01/ayo-rame-rame-pakai-banner-compfest.html
    kami sangat menghargai partisipasi anda dalam menggunakan banner ini


Leave a response

Your response:

Categories